BOBOTSARI – Kesejukan udara pagi di Desa Dagan, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, berpadu dengan semangat kebersamaan warga pada Jumat (6/2/2026). Ratusan warga, tua dan muda, tumpah ruah ke area mata air desa untuk melaksanakan tradisi tahunan yang dikenal dengan sebutan "Gugur Gunung Duduk Sendang".
Kegiatan ini bukan sekadar kerja bakti biasa, melainkan sebuah ritual budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun sebagai penanda datangnya bulan suci Ramadhan. Warga meyakini, membersihkan sumber air adalah simbol menyucikan diri sebelum menunaikan ibadah puasa.
Sejak pukul 07.00 WIB, warga sudah berkumpul membawa peralatan kebersihan seperti cangkul, sabit, dan sapu lidi. Fokus utama kegiatan "Duduk Sendang" ini adalah membersihkan area mata air dari lumpur, sampah dedaunan, dan rumput liar yang menghambat aliran air.
Istilah Gugur Gunung sendiri bermakna kerja sosial secara totalitas tanpa mengharap upah, demi kepentingan bersama. Sementara Duduk Sendang secara harfiah berarti merawat atau menggali kembali sumber air agar tetap jernih dan melimpah.
"Ini adalah cara kami 'kula nuwun' atau permisi kepada alam sebelum memasuki bulan puasa. Air yang bersih dari sendang ini nantinya akan digunakan warga untuk kebutuhan ibadah dan tradisi padusan," ujar salah satu sesepuh desa di sela-sela kegiatan.
Selain aspek lingkungan, tradisi ini memiliki nilai sosial yang kuat. Tidak ada sekat status sosial dalam kegiatan ini; perangkat desa, petani, hingga pemuda berbaur menjadi satu. Suasana semakin hangat ketika kegiatan ditutup dengan kembul bujana atau makan bersama di tepi sendang dengan menu tradisional seadanya yang dibawa oleh ibu-ibu PKK.
Tradisi Gugur Gunung Duduk Sendang di Desa Dagan menjadi bukti nyata bahwa modernisasi tidak lantas menggerus kearifan lokal. Justru, di tengah tantangan perubahan iklim, merawat sumber mata air melalui balutan budaya menjadi langkah konservasi yang paling efektif dan menyentuh hati masyarakat.